h1

Pendidikan yang Membangun Kemandirian

02/28/2013

pendidikan Komunitas Indonesia BloggerSalah satu tujuan pendidikan adalah membentuk lulusan yang mandiri.Dalam kaca mata psikologi, mandiri merupakan salah satu indikator kedewasaan seseorang.Walaupun hidup manusia tidak lepas dari bantuan orang lain, sikap dan perilaku kemandirian seseorang sangat menentukan seseorang dalam keberhasilan hidupnya.Sikap mandiri mendorong seseorang untuk tidak merepot­kan orang lain atau tergantung pada orang lain. Secara ekonomi, sikap man­diri seseorang akan menim­bul­kan hubungan sim­biosis komensalisme atau mu­tualisme di masyarakat.Keman­­dirian seseorang tidak begitu saja terbentuk. Keman­dirian sese­orang terbentuk melalui proses pendidikan.Kemandirian itu perlu pembiasaan,pemberian wawasan dan pelatihan. Keman­dirian seseorang setidak-tidaknya dipengaruhi oleh dua faktor , yaitu pola asuh di keluarga dan pendidikan di sekolah.

Dalam pandangan Islam, setiap Muslim wajib bergantung pada dirinya sendiri dan menggunakan kepercayaan dirinya yang telah dianugerahkan leh Tuhan kepa­danya. Menurut Thabathabai, ia harus menggunakan sarana yang telah dianugerahkan kepada­nya untuk mencari peng­hidupannya tanpa menggan­tung­kan harapannya pada orang lain.Seorang pelayan harus tahu bahwa dia memakan maknanan­nya sendiri dan bukan makanan tuannya.Dia mengetahui bahwa jerih payahnya sendiri, bukan memperleh dengan cuma-cuma.Sebagai pegawai harus merasa yakin bahwa dia mendapat gajih atas pekerjaannya sendiri, bukan hadiah dari pimpinannya, kan­tornya,negaranya atau ma­syarakatnya.Pengandalan diri berarti menggunakan kemam­puan bawaan seseorang dalam kehidupan dan tidak duduk-duduk saja menunggu pertolo­ngan dan bantuan orang lain.Ini bukan berarti memutuskan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Tinggi dan mengkhayalkan bahwa kita sendiri mampu merealisasikan segala tujuan dengan upaya kita sendiri (1989).
Sebaliknya bila, hidup sebagai parasit berarti mencampakkan kehormatan diri sendiri sebagai manusia, dan mencampakkan martabat kemandiriannya.Hidup seperti merupakan sumber segala macam kejahatan dan perbuatan antisocial lainnya yang muncul dari kehinaan dan kemerosotan moral. Tentunya setiap orang tua tidak ingin anaknya menjadi parasit.Untuk menjadikan anak mandiri, orang tua perlu mem­perhatikan pola asuhnya.

Peran Keluarga
Pola asuh orang tua sangat ber­pengaruh pada kemandirian anak.Seorang anak yang selalu dimanja atau mendapat perla­kuan yang overprotektif biasanya menyebabkan anak mandiri.Setiap orang tua ingin memba­hagiakan anak-anaknya, seperti membantu anak masuk sekolah dengan tidak melalui prosedur yang berlaku.Tidak sedikit orang tua memasukkan sekolah anaknya dengan jalan tertentu sekalipun nilai ujian anak tidak memenuhi syarat masuk ke sebuah sekolah.Untuk memulus­kan anak masuk ke sekolah ter­tentu orang tua turut campur tanpa melihat kemampuan anaknya. Memang anak itu bisa saja masuk ke sekolah yang diingin­kan, tapi anak itu tidak me­miliki kemandirian.Sebalik­nya,orang tua yang selalu me­nyalahkan anak juga membuat anak menjadi tidak percaya diri. Orang tua yang tidak memberi kepercayaan dan tanggung jawab kepada anak, membuat anak tidak mempunyai inisiatif.Begitu pula orang tua yang otoriter,akan membuat anak seperti robot.
Ada sebuah papatah yang mengungkan,”Mendidik dengan kekerasan akan melahirkan anak yang tiran, mendidik dengan ancaman akan membentuk anak yang pemberontak, dan melepas anak tanpa mendididiknya akan menjadikan sosok yang liar.Sebaliknya, bila mendidik dengan belas kasih akan menghadirkan pribadi yang rendah hati dan menddik dengan menghargai menjadikannya manusia yang percaya diri (Sindo,8 Januari 2009).”
Kalau orang tua menginginkan anaknya mandiri, orang tua perlu memberi kepercayaan kepada anak untuk melakukan tugas-tu­gas atau kewajiban Apalagi kalau pekerjaan dan prestasinya dihargai, anak pun akan menjadi percaya diri.Secara psiko­logis,penghargaan kepada anak yang melakukan kebaikan atau berprestasi akan memberi pengua­tan Untuk melatih anak menentukan masa depan ,anak dapat diajak berbicara atau dilibatkan. Untuk mendapatkan sesuatu , orang tua dapat mem­beri tugas kepada anak untuk melakukan sesuatu.Tentu tugas yang diberikan sesuai dengan perkem­bangan dan kemampuan­nya.Jangan sampai pemberian tugas itu di luar batas kemam­puannya.Untuk melanjutkan sekolah, berilah kesempatan kepada siswa untuk menentukan sekolah yang akan dimasukinya .Jangan sampai memasukkan siswa kepada sekolah yang tidak sesuai dengan kemampuan. Selain berilah anak itu keperca­yaan untuk mengurus pendaf­taran dan administrasinya.Peran orang tua memberi dorongan dan mempersiapkan biaya yang diperlukan.Begitu pula dalam menentuan jurusan atau program pendidikan baik yang akan dijalani di sekolah maupun di perguruan tinggi.

Peran Sekolah
Untuk melahirkan lulusan yang mandiri, sekolah dapat pula memainkan perannya.Sekolah merupakan salah satu kelompok layanan pendidikan yang me­nyelenggarakan pendidikan pada jalur formal.Pengelolaannya hendaknya dilaksanakan ber­dasar­kan manajemen berbasis sekolah/madrasah (UU Sisdiknas Pasal 51).Untuk mengondisikan pendidikan mandiri, sekolah perlu mereformasi diri.Menurut Mulyasa, reformasi pada level sekolah harus diawali dengan sikap positif dan komitmen dari seluruh warga sekolah untuk memanfaatkan otonomi yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Yang pertama perlu dibangun adalah komitmen untuk mandiri, terutama dengan menghilangkan setting pemikiran dan budaya kekakuan birokrasi, serta mengu­bah­nya menjadi pemikiran dan budaya aktif, kreatif, dan inovatif. Komitmen untuk mandiri perlu dibangun tidak saja pada diri kepala sekolah dan jajaran manajemen sekola, tetapi juga pada setiap individu warga sekolah, termasuk guru, tenaga administrasi, dan peserta didik (2002).
Dalam Making Connec­tions:teaching and the Human dijelaskan oleh Renate Caine dan Geoffrey Caine bahwa salah satu fungsi sekolah adalah me­nyiapkan siswa untuk meng­hadapi dunia nyata.Mereka perlu disadarkan tentang harapan yang mereka pikul, tantangan yang mereka hadapi, dan kemam­puan yang perlu mereka kuasai (dalam Dryden dan Vos 2001).
Dilihat dari konsep kemandirian ,menurut Mulyasa, keberhasilan sekolah dapat dilihat dari beberapa indikator.Pertama, adanya peningkatan mutu pendidikan, yang dapat dicapai oleh sekolah melalui kemandirian dan inisiatif kepada sekolah dan guru dalam mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber tersedia.Kedua, adanya peningkatan tanggung jawab sekolah kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya yang berkaitan dengan mutu sekolah, baik dalam intra maupun ekstra­kurikuler.Ketiga, tumbuhnya kemandirian dan berkurangnya ketergantungan di kalangan warga sekolah , bersifat adaptif dan proaktif serta memiliki jiwa kewirausaaan tinggi (ulet, inovatif, dan berani mengambil risiko.Keempat terwujudnya proses pembelajaran yang efektif, yang lebih menekankan pada belajar mengetahui, belajar berkarya, belajar menjadi diri sendiri dan belajar hidup bersama secara harmonis (2002).Untuk terciptanya pembelajaran yang efektif , iklim sekolah yang aman, nyaman, dan tertib sehingga terjadi pembelajaran yang dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan perlu dikondisi­kan.Untuk penyem­purnaan pro­ses pembelajaran, evaluasi dan perbaikan secara berkelan­jutan perlu pula dilakukan.
Untuk menjadikan anak didik mandiri, anak itu perlu juga dilatih kecakapan hidup.Keca­kapan hidup adalah kecakapan yang memungkinkan orang dapat secara positif dan adaptif mengatasi situasi dan tuntutan hidup sehari-hari, seperti berpikir kreatif dan kritis, mengambil keputusan yang tepat, meme­cahkan masalah, dan bersikap tanggung jawab.Kecakapan-kecakapan ini berkaitan dengan kesehatan pribadi, pengemba­ngan keluarga dan masyarakat, partisipasi sebagai warga Negara dan tenaga kerja.Namun, menurut Yudistira A Massardi, sekolah hendaknya tidak hanya mencetak pekerja atau pegawai, tetapi juga manusia yang kreatif.
Dalam batasan Depdiknas, seseorang dikatakan memiliki kecakapan hidup adalah mereka (1) yang memiliki kecakapan, pengetahuan, sikap, dan kesiapan agar berhasil dalam bekerja dengan orang lain atau bekerja secara mandiri, yang membantu meningkatkan kualitas hidup mereka; (2) yang memiliki motivasi dan etika tinggi agar berhasil dalam bekerja dan bersaing dalam lingkungan lokal, domestik, dan internasional dan mengantisipasi tuntutan pa­sar;(3) yang memiliki kecakapan dan peluang untuk belajar sepan­jang hayat sehingga mereka dapat mencapai status yang sama dengan orang lain; dan (4) yang sadar akan pentingnya pendidi­kan bagi mereka sendiri dan keluarga mereka dan kaitan an­tara pendidikan untuk pening­katan pendapatan dan kesejah­teraan sosial. Keberhasilan kemandirian ini pun tidak lepas keteladanan orang-orang di sekelilingnya dan lingkungan yang inspiratif dan kondusif berlatih kemandirian.

Nurkholik
Guru SMPN 3 Cilegon dan mahasiswa S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia [radarbanten]

9 komentar

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://lowonganterbaik2011.blogspot.com/


  2. memang hidup itu harus mandiri lho..?


  3. ternyata mandiri maknanya sangat luas ya.


  4. kemandirian adalah kunci sukses.


  5. hebat sekali.


  6. keren.


  7. I like it.


  8. apakah kita bisa mencontoh seperti yang di atas.



Tulis Balasan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: