h1

Konsep Pengembangan Wilayah – Berbasis Sistem Informasi

05/22/2011

banten cyber areaTulisan ini mencoba melihat secara konseptual beberapa issue / pemikiran utama dalam pengembangan wilayah / masyarakat menggunakan sistem informasi. Konsep ini sangat tergantung pada kemampuan SDM dalam beroperasi di jaringan komputer – untuk mencapai kemampuan tersebut, isu tingkat pendidikan SDM menjadi isu utama. Konsep Pembangunan Wilayah / Masyarakat Berbasis Teknologi Informasi Konsep yang kami pikirkan untuk membangun sistem perekonomian berbasis jaringan komputer adalah dengan menggunakan informasi semaksimal mungkin untuk membangun masyarakat atas inisiatif masyarakat itu sendiri yang bertumpu pada pranata ekonomi yang ada. Pendekatan ini diharapkan agar dapat menjamin kesinambungan perkembangan sistem maupun perekonomian tersebut. Konsep ini bertumpu pada pengembangan wilayah yang bertumpu pada masyarakat itu sendiri.

Secara konseptual sistem informasi berbasis jaringan komputer khususnya yang berkaitan dengan pengembangan wilayah / masyarakat dapat kita pandang dari dua arah / pendekatan, yaitu:

• Pendekatan struktural.
• Pendekatan fungsional.

Konsep masyarakat Teknologi1

Gambar 1. Konsep sistem informasi berbasis jaringan komputer.

Secara struktur kita dapat melihat sebuah sistem informasi berbasis jaringan komputer secara berlapis. Lapisan konseptual lapisan sistem informasi berbasis jaringan komputer dapat dilihat pada gambar (1). Secara umum dapat kita bagi dalam empat lapisan utama, yaitu:

• Lapisan fisik berupa peralatan komputer yang terkait dalam sebuah jaringan komputer.
• Lapisan perangkat lunak aplikasi penunjang, dapat berupa dBase, spread sheet dll.
• Lapisan aplikasi sistem informasi, seperti Geographics Information System (GIS), Management Information System (MIS).
• Lapisan konseptual berupa Sistem Informasi Eksekutif (SIE) dan / atau Expert System (ES) untuk mempercepat proses pengambilan keputusan & kebijaksanaan.

Umumnya pengambil kebijaksanaan atau praktisi lapangan di Indonesia sudah cukup mahir untuk menguasai teknik-teknik pada dua lapisan teratas dalam konsep sistem informasi yang mengkaitkan wilayah luas. Akan tetapi masih perlu banyak pemikiran / usaha untuk mengintegrasikan kedua lapisan aplikasi dan konseptual diatas dengan lapisan fisik jaringan komputer yang memungkinkan efisiensi pengembangan sistem informasi yang meliputi wilayah luas tanpa perlu terikat secara fisik pada dimensi ruang dan waktu. Bayangkan bahwa seorang perencana pembangunan, investor, bankir di Indonesia cukup dengan menekan sebuah tombol komputer dapat langsung mengetahui kondisi perekonomian dalam wilayah yang luas yang selalu ter-audit dan di up-date setiap hari. Tentunya hal yang dibayangkan tadi masih jauh dari kenyataan, akan tetapi beberapa usaha sistematis untuk melakukan integrasi sistem informasi, seperti, GIS dan MIS, dengan jaringan komputer sedang dilakukan dengan kerjasama multi-disiplin.

Konsep masyarakat Teknologi2

Gambar 2. Strata informasi dalam kaitan pengambilan keputusan / operasional.

Strata informasi perlu diperhatikan secara seksama dalam implementasi konsep ini. Ada informasi-informasi tingkat lokal yang sifatnya operasional yang tidak terlalu berpengaruh pada kebijaksanaan tingkat regional maupun nasional. Jadi topologi fisik jaringan perlu dipikirkan untuk disesuaikan dengan strata informasi yang dibutuhkan. Pada umumnya, kepadatan arus informasi akan cukup padat pada strata lokal, pada tingkat yang lebih tinggi arus informasi relatif lebih rendah dibandingkan tingkat yang dibawahnya karena adanya proses filtering terhadap informasi tingkat lokal sehingga hanya informasi-informasi yang sangat berpengaruh terhadap kebijaksanaan tingkat regional / nasional yang perlu ditransmisikan pada jaringan tulang punggung tingkat regional / nasional. Strata informasi ini dapat dilihat sebagai sebuah segitiga informasi pada gambar (2).

Untuk lebih membumikan konsep di atas, ada baiknya dibahas secara lebih rinci contoh aplikasi lapangan yang sedang berjalan saat ini. Aplikasi jaringan komputer yang akan diketengahkan pada kesempatan ini adalah konsep penggunaan jaringan komputer untuk mengkaitkan sistem koperasi untuk menumpu sistem perekonomian. Pada kesempatan ini, kami akan mencoba mengangkat tujuan / fungsi sebuah sistem informasi untuk mencapai pemerataan pendapatan dalam sebuah masyarakat. Kondisi ini mungkin dicapai dengan menyempitkan berbagai jurang sosial-ekonomi yang ada, seperti yang tampak dengan jelas saat ini adanya perbedaan tingkat sosial, ekonomi maupun pendidikan antar wilayah di Indonesia. Sayangnya, acuan keberhasilan pembangunan yang umum dipakai, seperti GNP, sifatnya sangat global yang akhirnya cenderung untuk mengadopsi berbagai kebijaksanaan yang bersifat memaksimalkan hasil produksi dan pemasaran secara nasional. Hal tsb. diatas secara tidak langsung menyembunyikan berbagai permasalahan sosial-ekonomi pada tingkat keluarga, wilayah maupun sektor informal. Pada kesempatan ini kami mencoba membahas sebuah pemikiran untuk mengaplikasikan jaringan komputer / sistem informasi untuk pembangunan masyarakat pedesaan. Konsep ini diharapkan tidak hanya mengacu para referensi-referensi global seperti GNP tetapi juga pada refensi-referensi lokal pada tingkat keluarga yang dibantu dengan adanya informasi yang direkam oleh keberadaan jaringan komputer. Tentunya pemikiran ini tidak hanya terbatas pada pengembangan pedesaan tapi dapat ditranslasikan pada penggunaan lainnya seperti pembangunan industri kecil / menengah maupun SDM pada tingkat D1-D3. Konsep ini pengembangan wilayah pedesaan berbasis sistem informasi yang ditumpangkan pada jaringan pra-koreasi simpan-pinjam yang sebenarnya bisa dioperasikan dengan mudah di daerah-daerah.
Bagaimana kemungkinan implementasi konsep diatas? Dua hal yang cukup menentukan dalam implementasi konsep diatas, yaitu:

• pembiayaan proses yang berjalan
• pemilihan teknologi informasi yang tepat

Institusi ekonomi tingkat pedesaan seperti pra-koperasi simpan pinjam mempunyai potensi yang cukup besar dalam mengatasi berbagai permasalahan ekonomi regional yang ada. Agar sistem (jaringan informasi untuk pengembangan wilayah pedesaan) tidak tergantung dari atas, pembiayaan sistem yang disarankan dapat langsung diperoleh dari assosiasi pra-koperasi itu sendiri dengan memakai “bunga” pinjaman sebagai modal. Tentunya dibutuhkan jumlah anggota minimal dalam pra-koperasi ini (misalnya 25 kepala keluarga) agar dapat tetap hidup tanpa perlu bantuan dari luar. Sebuah assosiasi pra-koperasi dengan anggota 20-30 pra-koperasi cukup mudah menyediakan dana sebesar 4-6 juta rupiah per-tahun untuk membiayai sistem informasi antar pra-koperasi.
Pemilihan teknologi informasi sangat tergantung pada kondisi masyarakat yang ada. Kondisi pedesaan yang ada tampaknya tidak memungkinkan untuk menggunakan komputer mikro (laptop) di tingkat pra-koperasi. Akan tetapi cukup mudah bagi kita untuk mendidik lulusan sekolah menengah di pedesaan untuk mengoperasikan sebuah komputer laptop. Sebuah komputer laptop dapat diperoleh dengan dana sebesar 1.5-2 juta rupiah, sisa dana dapat digunakan untuk biaya operasi bagi operator tamatan sekolah menengah ini untuk berkeliling ke pra-koperasi serta mengumpulkan data setiap bulan. Dalam assosiasi pra-koperasi tingkat kecamatan atau kabupaten jaringan informasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang relatif lebih canggih seperti menggunakan teknologi jaringan komputer menggunakan radio (paket radio).
Bayangkan apa yang mungkin kita peroleh dengan mengkaitkan dengan informasi yang ada pada proses simpan pinjam pada institusi ekonomi tingkat pedesaan seperti pra-koperasi simpan pinjam, misalnya:

  • Informasi yang ada dapat berupa penghasilan yang diperoleh (misalnya dari hasil bumi), keadaan sumber penghasilan anggota pra-koperasi dll. Dengan menggabungkan informasi yang ada dari berbagai pra-koperasi di suatu wilayah, keadaan wilayah dapat ditela’ah. Informasi ini akan sangat berguna bagi pengambilan keputusan-keputusan untuk mengembangkan wilayah yang dilakukan pada tingkat yang lebih tinggi maupun untuk menarik investasi dari luar ke dalam suatu wilayah (dalam hal ini wilayah pedesaan).

Pola penggunaan sumber daya lokal. Pola ini dapat digunakan untuk melakukan prediksi sederhana, misalnya, menggunakan teknik-teknik regresi yang dikaitkan dengan pemrograman linier. Bertumpu pada data pra-koperasi yang terintegrasi dan teraudit dengan baik, prediksi dapat dilakukan untuk banyak hal, seperti:

  • Estimasi tingkat bunga yang cukup aman untuk melakukan investasi yang menguntungkan semua pihak.
  • Pola perilaku masyarakat dalam menggunakan sumber daya lokal maupunm dalam melakukan operasi ekonomi.
  • Alokasi dana pada tingkat keluarga dan wilayah. Konsep pengembangan wilayah yang kami pikirkan bertumpu pada pengkaitan informasi dalam sistem pra-koperasi simpan-pinjam. Informasi khususnya tentang peri-kehidupan ekonomi anggota koperasi dapat secara tidak langsung dicerminkan dari kegiatan simpan pinjam yang dilakukan.

Study pola investasi yang terbaik yang mungkin dilakukan pada suatu wilayah yang disesuaikan dengan kemampuan masyarakat maupun sumber daya yang ada pada wilayah tersebut.

  1. Di tinjau dari sumber pinjaman. Bank melalui jaringan komputer dapat melayani jaringan assosiasi pra-koperasi tingkat pertama, dengan performance collateral yang didasarkan atas informasi dari komputer laptop yang di-audit. Jika diperlukan, audit ditingkat pra-koperasi dapat juga dilakukan secara acak tetapi periodik. Pinjaman diberikan pada asosiasi, yang kemudian menyalurkannya pada anggota atas dasar tanggungan sambung-renteng.
  2. Tapi sumber pinjaman tidak hanya bank, melainkan dari interlending di tingkat asosiasi pertama dan kedua, jika ada mungkin asosiasi tingkat ke tiga dst. Bank juga akan memberikan pinjaman pada tingkat-2 yang bersangkutan menurut besarnya asosiasi. Hal ini dapat merupakan investasi yang bertingkat, semakin tinggi asosiasinya, semakin besar dana yang dapat dipinjam. Jadi sesuai dengan konsep PIR yang terbalik, seluruh proses dikendalikan dari bawah (bottom-up approach). Implikasi konsep ini adalah untuk mengadakan integrasi ekonomi lokal pada ekonomi regional, pemerataan, dsb.
  3. Arus informasi juga dapat berbalik, dibawa oleh komputer laptop dari atas ke bawah, misalnya:
  • Informasi pasaran komoditi yang tentunya sangat menguntungkan bagi masyarakat pedesaan yang memungkinkan mereka untuk mengakses langsung pasar komoditi dan dapat memilih sendiri harga yang paling menguntungkan bagi masyarakat itu sendiri.
  • Peraturan-peraturan yang ada, bahkan mungkin dilakukan interaksi antara pihak pembuat peraturan dengan masyarakat itu sendiri agar diperoleh keuntungan sebesar-besarnya bagi masyarakat tersebut.
  • Berbagai teknologi tepat-guna yang akan sangat berguna bagi proses pembangunan fisik di pedesaan. Yang penting untuk dipahami adalah kemungkinan untuk melakukan interaksi secara aktif dengan para ahli di luar daerah pedesaan yang diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan proses implementasi teknologi tepat guna tersebut.
  • Dakwah
  • Informasi mengenai masalah organisasi dan manajemen.

Tentunya masih banyak lagi informasi yang mungkin mengalir dari atas. Yang penting disini adalah pengembangan fungsi yang sangat strategis: Technical & Management Service Organization, dimana operator laptop merupakan perantara anggota pra-koperasi dengan para ahli dan dunia luar. Operator laptop ini yang mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan, dimasukan dalam komputer laptop dan jawaban dari tenaga ahli diluar disampaikan tertulis melalui komputer laptop. Ditambah dengan program radio dan koran masuk desa, bukan mustahil akan terjadi revolusi informasi di pedesaan.

Sistem jaringan informasi pra-koperasi ini dapat pula dihubungkan dengan pembangunan wilayah yang didasarkan atas mobilisasi sumberdaya lokal, yang dipertemukan dengan sumberdaya luar yang terkendalikan dari bawah. Atau setidaknya, yang dari bawah terorganisasikan untuk mengadakan collective bargaining, ditunjang oleh informasi yang meyakinkan dengan kekuatan moneter yang ter-audit dengan baik. Secara keseluruhan sistem yang dikembangkan dapat melakukan interfacing dengan sistem pembangunan / perencanaan pembangunan nasional dengan kontrol yang lebih ketat dari bawah maupun atas sehingga dapat diharapkan hasil yang diperoleh akan lebih memuaskan banyak pihak khususnya masyarakat pedesaan.

Konsep masyarakat Teknologi3

Gambar 3. Konsep pengembangan wilayah berbasis sistem informasi

Selanjutnya, mari kita telaah sistem yang dikembangkan sebagai sistem kebijaksanaan yang sifatnya nasional. Sistem yang kami pikirkan berbeda dengan sistem koperasi konvensional yang kita kenal, dimana informasi yang ada umumnya terbelenggu pada tingkat pra-koperasi / koperasi dan relatif tertutup bagi sistem diatasnya. Dapat dibayangkan, dalam sistem ini kita mendapatkan GIS (Geographic Information System) secara gratis sebagai hasil sampingan. Caranya dengan memasukkan setiap bulan tambahan satu atau dua variabel ke dalam komputer, pada saat melayani anggota pra-koperasi. Integrasi GIS dengan jaringan komputer radio memungkinkan untuk memperoleh data informasi yang akurat dalam waktu singkat yang memudahkan proses perencanaan pembangunan. Hal ini dimungkinkan karena adanya partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan self-survey GIS.

Dengan adanya aktifitas penelitian di PPLH-ITB dalam melakukan mapping menggunakan teknologi small format areal photopgraphy yang relatif murah dapat kita bayangkan bahwa GIS yang dikembangkan mungkin dapat juga meliputi Land Information System (LIS) yang sifatnya strategis. Masalah transmisi data berjumlah besar yang dibutuhkan dalam GIS dan LIS sebetulnya tidak menjadi masalah yang cukup menghambat apalagi dengan dikembangkannya sistem packet radio kecepatan tinggi.
.
Tentunya untuk merealisasikan konsep ini perlu dijustifikasi dengan usaha-usaha sistematis dalam melakukan dukungan teknis peralatan yang digunakan. Usaha untuk membangun industri penunjang maupun penguasaan teknologi yang diperlukan akan dijelaskan secara lebih rinci pada bagian selanjutnya.

Konsep Organized Demand Created Supply.

Selanjutnya, kami akan mencoba menganalisa langkah / strategi / konsep yang secara tidak tertulis telah dijalankan dalam mengimplementasikan teknologi jaringan komputer packet radio ke masyarakat. Secara konseptual proses implementasi teknologi jaringan komputer ke masyarakat lebih mendekati pendekatan secara demand yang bertumpu pada inisiatif masyarakat itu sendiri untuk menyediakan supply peralatan maupun instalasi yang dibutuhkan. Konsep ini mendekati sebuah konsep organized demand created supply yang mempunyai effek yang sangat effektif dalam menjaga kesinambungan proses perkembangan jaringan komputer yang dibangun. Secara umum dalam proses pengembangan jaringan komputer Paguyuban ini ada tiga buah unsur pokok yang penting, yaitu:

• Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
• Penguasaan/pengembangan/penyebaran ilmu pengetahuan.
• Pembentukan pra-sarana logistik/industri penunjang.

Dari ketiga unsur diatas, kemampuan dan motivasi SDM merupakan kunci utama keberhasilan seluruh program yang ada. SDM ini dapat kita pandang dari sudut demand maupun supply. Tentunya kemampuan untuk melakukan perkembangan secara berkesinambungan akan dapat dijamin jika sisi demand dapat secara mandiri menumpu sisi supply yang diperlukan olehnya. Konsep ini dikenal sebagai organized demand created supply yang ditujukan untuk membangun secara mandiri tanpa banyak tergantung dari luar. Barangkali mirip dengan pepatah Cina agar “memberikan kail daripada ikan”. Beberapa asumsi dasar yang mendekati sebagian besar kondisi lapangan yang ada, adalah:

  • Tidak ada sumber daya manusia yang betul-betul ahli dalam masalah praktis jaringan komputer (baik dari segi perangkat keras, perangkat lunak maupun manajemen).
  • Tidak ada industri penunjang untuk memperoleh perangkat keras / perangkat lunak untuk keperluan jaringan yang dibutuhkan (diproduksi) di dalam negeri.
  • Harga perangkat komputer mikro (PC) di pasaran Indonesia dapat terjangkau oleh sebagian besar institusi/organisasi peserta jaringan.
  • Umumnya tidak disediakan dana khusus di lembaga-lembaga di Indonesia untuk keperluan pengembangan jaringan komputer.
  • Teknologi paket radio akan digunakan sebagai tumpuan utama untuk mebangun jaringan komputer di Indonesia karena sifatnya yang sederhana dan sangat decentralized sehingga bisa mematahkan monopoli sehingga memungkinkan untuk bottom-up development.
  • Sedapat mungkin mendayagunakan semaksimal mungkin sumber daya (manusia & peralatan) yang sudah ada di lembaga/institusi tersebut.

Beberapa konsekuensi dan hal-hal yang perlu dipikirkan dengan adanya asumsi di atas adalah:

  • Titik berat strategi ini diharapkan untuk mengarah pada strategi-strategi untuk mengembangkan kemampuan & motivasi SDM di Indonesia.
  • Sedapat mungkin mendayagunakan prasarana & kemampuan yang sudah ada. Kemampuan lobbying akan menjadi penting untuk mengintegrasikan prasarana / kemampuan yang ada & tersebar dibanyak instansi/organisasi menjadi satu kesatuan.
  • Usaha yang sistematis dalam menyakinkan para birokrat & politisi ditingkat pusat tentang potensi yang ada pada konsep jaringan komputer berbasis teknologi packet radio.
  • Sedapat mungkin melakukan lobby-lobby tingkat internasional maupun nasional (mis. melalui konperensi internasional) untuk memperoleh dukungan/dana yang tidak mengikat dari lembaga/industri (contoh: UNDP, CIDA, IDRC, JSPS, VITA, dll). Ini penting untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada satu sumber dana untuk menjamin kelangsungan pembangunan.

Beberapa tujuan jangka pendek yang ingin dicapai dari strategi yang akan digunakan ini adalah:

  • Membentuk dasar-dasar untuk membangun jaringan komputer di Indonesia yang sustainable (berlanjut) dan self-financing. Kemampuan dan motivasi dari sumber daya manusia yang tersedia akan menjadi tumpuan utama dari perkembangan ini (bukan kecanggihan peralatan yang digunakan).
  • Membentuk dasar untuk pengembangan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menumpu perkembangan jaringan.
  • Melakukan reverse engineering (dari perangkat yang tersedia di public domain) dengan SDM yang ada untuk memperoleh pengalaman.
  • Mencari alternatif perangkat keras/perangkat lunak/pra-sarana komunikasi yang akan dipakai.
  • Memberikan dasar-dasar untuk membangun dari bawah bagi industri kecil/industri rumah yang dibutuhkan untuk menumpu perangkat keras/perangkat lunak yang dibutuhkan untuk pengembangan jaringan.
  • Mencari alternatif strategi/jalan untuk melepaskan diri dari ikatan/ketergantungan yang mungkin akan menghambat perkembangan jaringan.

Mari kita lihat lebih lanjut beberapa sumber daya yang sudah ada dan mungkin digunakan/ dikembangkan lebih lanjut untuk membangun jaringan komputer menggunakan radio di Indonesia.

  1. Jaringan komputer Paguyuban sebagai lembaga informal dapat menjadi lembaga pendamping masyarakat dalam mendorong terbentuknya jaringan komputer selama ini & dimasa mendatang.
  2. Perangkat lunak NOS (+ source code + executable) yang ada di amatir radio dapat diperoleh secara cuma-cuma untuk keperluan pendidikan & penelitian (untuk komersial sifatnya shareware $50).
  3. Rancangan beberapa perangkat keras di amatir radio dapat diperoleh di public domain untuk keperluan non-komersial (seperti SCC-card).
  4. Paling tidak dua perguruan tinggi utama di Indonesia ITB & UI dapat menjadi sarana untuk mengembangkan SDM (program S1/S2/S3) untuk menumpu pengembangan jaringan komputer.

Strategi Membangun Industri Kecil / Menengah Penunjang. Industri kecil / menengah sangat menarik untuk menjadi tumpuan dari perkembangan jaringan komputer Paguyuban terutama jika kita kaitkan dengan konsep organized demand created supply diatas. Ada beberapa sifat yang menarik dari industri kecil / menengah:

  • Industri kecil / menengah mempunyai potensi untuk dibina kedalam sebuah sistem sub-contracting secara kooperative sehingga mengurangi beban yang ada di industri besar.
  • Gross capital employed / fixed capital stock yang lebih tinggi daripada industri besar yang berarti perputaran modal industri kecil yang lebih cepat daripada industri besar.
  • Gross profit ratio industri kecil umumnya lebih besar daripada industri besar. Bahkan bukan mustahil perbedaan upah pekerja industri kecil dan industri besar dapat dipersempit seperti halnya yang terjadi di Jepang.
  • Industri kecil / menengah mempunyai sifat yang tidak dapat dengan mudah di monopoli. Di samping itu, industri ini yang merupakan tumpuan langsung bagi kehidupan rakyat kecil di Indonesia.
  • Cukup banyak amatir radio yang bergerak secara informal di industri per-radio-an. Hal ini merupakan SDM yang tidak bisa dikesampingkan.
  • Proses pembentukan industri kecil / menengah lebih banyak ditentukan oleh manusia-nya yang akan memproduksi alat / barang bukan semata-mata oleh struktural peraturan pemerintah / dana.

Beberapa kekuatan dan sumber daya yang sudah ada dan mungkin dikembangkan dan diminta bantuannya untuk mendukung pengembangan jaringan komputer menggunakan radio adalah:

  1. Departemen Koperasi dan industri kecil di Indonesia harusnya sudah cukup banyak berkecimpung dalam bidang ini. Insya Allah, hal ini dapat merupakan sumber daya yang cukup bisa di andalkan.
  2. Ada beberapa NGO/LSM yang bergerak di Industri kecil, seperti PUPUK dan Yayasan Mandiri, yang umumnya dimotori oleh para alumni ITB.
  3. Industri kecil / menengah elektronika di Indonesia cukup cukup berkembang, misalnya, di Bandung yang bertumpu pada pasar Cikapundung dan di Jakarta, yang lebih bersifat komersial / konglomerat di Glodok.

Secara umum kita dapat menggunakan konsep organisasi matrix dalam sekala besar yang mengkaitkan antara lembaga-lembaga yang menjadi sumber pengetahuan seperti perguruan tinggi & LSM dengan industri-industri kecil sebagai muara dari teknologi. Integrasi dan pembinaan dapat dilakukan secara effisien menggunakan jaringan komputer yang ada.
Yang mungkin menarik untuk disimak, kebanyakan NGO/LSM yang ada umumnya dimotori oleh orang-orang yang cukup idealis dan berdedikasi (walaupun kadang-kadang cara berfikirnya tidak sama dengan instansi pemerintahan). Hal ini perlu dilihat dari sudut positif terutama dalam melihat alternatif-alternatif yang kemungkinan lebih effisien dan strategis untuk dapat berjalan tanpa perlu bergantung banyak dari perintah dari atas.

DOWNLOAD File Lengkap KLIK DISINI!

Artikel Terkait :

Tulis Balasan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: