h1

PERKEMBANGAN KEGIATAN PRIMA TANI LKDT KABUPATEN CIANJUR

05/13/2008

1.     Judul Kegiatan :  Prima Tani LKDT Kabupaten Cianjur

2.     Luaran yang diharapkan :

1)  Pemasyarakatan Prima Tani lahan kering dataran tinggi khususnya pada wilayah Laboratorium Agribisnis dan umumnya pada kabupaten terkait

2)  Peningkatan sumberdaya manusia (petugas dan petani) pada wilayah Prima Tani lahan kering dataran tinggi agar dapat berperan aktif pada pelaksanaan kegiatan

3)   Penumbuh – kembangan kelembagaan yang ada di wilayah Prima Tani lahan kering dataran tinggi

4)  Perintisan pembentukan (inisiasi) klinik agribisnis sebagai salah satu lembaga jasa konsultan, diseminasi dan informasi.

5)   Umpan balik sebagai bahan penyempurnaan perencanaan kegiatan mendatang pada kegiatan Prima Tani lahan kering dataran tinggi.

1.     Lokasi dan Agroekosistem : Desa Talaga,  Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, dengan Agroekosistem Lahan Kering Dataran Tinggi.

2.     Perkembangan sampai dengan akhir Mei  2008 :

A.     Implementasi Inovasi Teknologi

1) Budidaya Pisang

Sejak dimulainya kegiatan PRIMA TANI pada akhir tahun 2006 dengan diawali kegiatan Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif (PPSP)/Partcipatory Rural Appraisal atau Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP)/Need and Oppurtunity Assesment (NOA), maka diketahui bahwa pisang  sebagai komoditas pilihan utama, kemudian disusul oleh  cabai rawit, caisin, dan jagung yang digunakan sebagai tanaman sela pada pertanaman pisang, dan ternak domba

Pisang  memiliki kontribusi terbesar bagi pendapatan usahatani petani pada laboratorium agribisnis PRIMA TANI di Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Dari seluruh populasi tanaman pisang yang ditanam, dilihat berdasarkan proporsi kultivar pisang, maka 15% diantaranya ditanami pisang RAJABULU, pisang  AMBON PUTIH 35%, pisang NANGKA 25% dan 25% sisanya merupakan kutivar pisang lainnya Cere, Jepang, Mas, Kepok, Siam, Ambon Lumut, dll).

Berdasarkan identifikasi kebutuhan teknologi, diketahui inovasi teknologi budidaya  yang dibutuhkan adalah (1) Penggunaan bibit yang baik melalui pemilihan pohon induk unggul, (2) Pengaturan jarak tanam yang dapat dimanfaatkan untuk tumpang sari dengan tanaman sayuran, (3) Pemberian  pupuk kandang dan pupuk anorganik (TSP, KCl dan ZA) sesuai rekomendasi, (4) Sanitasi kebun, (5) Pengaturan anakan pisang, (6) Pemberongsongan buah pisang, (7) Pemotongan jantung pisang, dan (8) Pembuangan daun tua.  Ada 7 (Tujuh) komponen teknologi yang diadopsi petani, implementasi ke-7 komponen teknologi budidaya tersebut, mampu meningkatkan produktivitas hasil Pisang RAJABULU 28%-57%, pisang AMBON PUTIH 30%-120% dan pisang NANGKA 25%-67%.

Diantara 7 komponen teknologi tersebut terdapat 2 (dua) komponen teknologi yang tingkat adopsinya “sangat tinggi”, yaitu: pengaturan jarak tanam (Ganbar 1) dan pemberongsongan buah pisang dengan menggunakan plastik warna biru (Gambar 2).

Pengaturan jarak tanam 3×3 meter sampai dengan 3×4 meter merupakan jarak tanam yang banyak diminati dan diadopsi oleh petani, sebab petani masih dapat menanami lahan diantara tanaman pisang untuk ditanami tanaman sayuran (cabai rawit dan caisin) sebagai tanaman tumpangsari, dan  intersepsi radiasi matahari masih cukup untuk pertumbuhan optimum bagi tanaman sela diantara tanaman pisang.

Sumber : http://jabar.litbang.deptan.go.id

Tulis Balasan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: