h1

Cianjur RawanTerhadap Kasus Trafficking

08/23/2007

cianjur-promo.jpgMalam ini Pas Lagi Googling, terdengar sayup-sayup di LATIVI ada berita mengenai Kabupaten Cianjur. Tentang Masalah Jual Beli Keperawanan, dan anak adalah sebagai aset yang dapat menaikan derajat dan ekonomi dalam rumah tangga.Pemberitaan di LATIVI sangatlah Jelas dan Lugas disertai dengan gambar dan data yang akurat.

Kaget Juga sih mendengarnya, Terus saya coba bertanya pada paman Google, ternyata ada salah satu artikel yang membenarkan masalah ini. Di Web Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyah : MENKOKESRA berita dalam File PDF dikatakan bahwa “Cianjur adalah Jagoan dalam hal jual beli Perempuan”. Saya sebagai warga cianjur turut prihatin dengan ini semua. Semoga Pemerintah Kabupaten Cianjur terutama instansi terkait cepat tanggap dan dapat mengambil keputusan tepat dan cepat dalam mensikapi permasalahan ini….

Kabupaten Cianjur Peringkat Kedua di Jabar Soal Jual Beli Perawan

Cianjur-RoL–Kabupaten Cianjur yang dikenal sebagai kota Gerbang Marhamah (Gerakan Masyarakat Berakhlakul Karimah) ternyata peringkat kedua di Jawa Barat dalam urusan jual beli perempuan dan keperawanan alias trafficking.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Kabupaten Cianjur, Liya Yulia, kepada sejumlah wartawan usai menjadi pembicara dalam acara semiloka Optimalisasi Kerjasama Masyarakat dan Aparat untuk Mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang di Kabupaten Cianjur serta Sosialisasi Undang-Undang nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Gedung Dakwah Asrama Haji Cianjur, Rabu.

Menurut Yulia, berdasarkan hasil penelitian Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cianjur pada bulan April hingga Mei 2007 di Pontianak, Kalimantan Barat terungkap, kasus trafficking di Kabupaten Cianjur masih tinggi.

“Hal tersebut terbukti dengan data yang diperoleh KPI Cianjur dari Biro Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat yang menyebutkan Kabupaten Cianjur berada pada peringkat kedua ditingkat Jawa Barat dan peringkat ketiga di Indonesia yang rawan terhadap kasus trafficking,” paparnya.

Menurut Yulia , ada sekitar 2.000 kasus trafficking yang terjadi melalui jalur ke Pontianak. Mayoritas, kata Yulia, mereka berasal dari Cianjur. “Memang setiap tahunnya angka tersebut bervariatif. Kebanyakan, dari kasus-kasus tersebut, korbannya berasal dari Cianjur. Hal itu diketahui dari identitas mereka,” terangnya.

Diungkapkan Yulia, modus trafficking biasanya terjadi dengan memalsukan kartu tanda penduduk (KTP). Para korban yang akan dijual ke Malaysia, jelasnya, biasanya terlebih dahulu mengganti identitas domisilinya.

“Para pelaku trafficking terlebih dahulu mengganti identitas domisili para korbannya,” papar dia.

Ia tidak menampik apabila Kabupaten Cianjur dinilai sebagai daerah paling rawan terhadap kasus-kasus trafficking. Dipaparkannya, Kabupaten Cianjur berada pada peringkat kedua di Jawa Barat setelah Indramayu.

“Sedangkan di Indonesia, Cianjur berada di peringkat ketiga setelah Jawa Timur dan Kalimantan Barat. Data ini berdasarkan informasi yang diperoleh dati BPS Jawa Barat dan penelitian di Pontianak,” jelasnya.

Pihaknya, kata Yulia, sangat menyayangkan perhatian pemerintah Kabupaten Cianjur yang masih minim terhadap penanganan kasus trafficking. Ia berharap dengan adanya sosialisasi UU nomor 21 tahun 2007 dapat mendorong lahirnya peraturan daerah (Perda) yang mengatur mengenai perdagangan orang.

“Saat ini di Pemerintah Kabupaten Indramayu telah membuat Perda mengenai trafficking pada tahun 2005. Kami menginginkan agar pemerintah kabupaten Cianjur pun dapat segera membuat Perda mengenai hal itu,” ujar Yulia.

Kabag Operasional Polres Cianjur, Kompol A Rusman SH, tidak menampik masih tingginya kasus trafficking di Kab Cianjur. Dari hasil laporan yang masuk mengenai kasus-kasus trafficking, Polres Cianjur selalu menindaklanjutinya.

“Namun memang sangat disayangkan, ternyata masih banyak juga para korban yang enggan melaporkan kasus yang mereka alami,” kata Rusman.

Polres Cianjur, kata Rusman, telah siap melaksanakan UU nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Pihaknya, aku Rusman, sudah mulai menyosialisasikan UU tersebut keseluruh Polsek. “Kita siap melaksanakannya dan UU ini sudah mulai disosialisasikan ke Polsek-Polsek,” ujar Rusman. antara/pur |Republika|

One comment

  1. Saya mau klarifikasi ya. Bolehkan? Sehubungan dengan kutipan pernyataan Liya Yulia tentang penelitian KPI Cianjur di Pontianak antara April-Mei 2007. Karena sepengetahuan saya kurun waktu yang disebutkan itu CiBa dengan LBH Apik POntiank justru melakukan penelitian tentang trafficking di Pontianak. Dan kebetulan waktu itu salah seorang tim peneliti CiBa Jakarta juga bernama Liya Yulia yang juga anggota KPI Cianjur.

    Trims
    Purba, CiBa Jakarta



Tulis Balasan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: