h1

Pantai Apra-Cianjur Selatan

03/01/2005

pantai_apra_cianjur.jpgKabupaten Cianjur|KESIBUKAN luar biasa tampak di Pantai Apra, Sindangbarang Cianjur Selatan. Pantai Apra menjadi pantai pembuka dalam acara Sukur Pesisiran yang akan berlangsung di sepuluh pantai di bagian selatan Jawa Barat pada tahun ini.

Pantai yang biasanya sepi dari hiruk-pikuk manusia ini tampak ramai. Begitu memasuki pantai, kita disambut dengan dekorasi berupa perahu terbuat dari bambu dengan 170 bendera negara di atasnya. “Ini menandakan acara ini bertema universal. Jadi, dapat berlaku di seluruh negara,” kata pimpinan Teater Payung Hitam Rahman Sabur, selaku penanggung jawab dekorasi acara di Pantai Apra itu.

Beberapa bendera negara ukurannya tampak lebih besar dibandingkan bendera lain. Bendera yang berukuran lebih besar tersebut, misalnya bendera Amerika Serikat (AS) dan Irak. “Bendera dengan ukuran berbeda ini menunjukkan negara-negara itu sedang memiliki masalah berat. Contohnya, negara AS dan Irak yang tengah berkonflik,” kata Rahman.

Di bagian depan perahu, bendera merah putih dipasang sendirian, jauh terpisah dari yang lain. Bendera kebanggaan bangsa Indonesia itu seolah memimpin bendera-bendera lain dari seluruh dunia.

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Sukur Pesisiran Taufik Rahzen, ide untuk memasang bendera pada perahu itu diilhami oleh masyarakat di daerah Mundu, Cirebon Utara. Di Mundu, saat berlangsung pertandingan sepak bola, masyarakat memasang bendera sebagai wujud dukungan terhadap tim kesayangan mereka.

“Apa salahnya kita mengikuti tradisi masyarakat Mundu,” ujar Taufik. Dia menambahkan, pemasangan bendera negara-negara anggota Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada perahu, juga ditujukan sebagai simbol bagi lemahnya legitimasi PBB. Selama ini, PBB dianggap masih belum mampu menyelesaikan konflik yang melanda negara-negara anggotanya.

Selain itu, kata Taufik, pemasangan bendera partai atau sponsor tidak diperkenankan pada acara itu. Menurut dia, Festival Sukur Pesisiran ini bukan milik pribadi, partai, golongan, atau perusahaan tertentu, melainkan milik seluruh masyarakat.

“Bendera berbagai negara itu juga melambangkan olimpiade kebudayaan yang akan berlangsung di Yunani pada tahun 2004 mendatang,” ujarnya.

PANTAI Apra
ternyata menyimpan sejarah tersendiri. Pantai berpemandangan “elok” itu turut menjadi saksi sejarah pemberontakan Angkatan Perang Rakyat Semesta (APRA) pada awal Kemerdekaan Indonesia. Bahkan, konon, terdapat benteng di kawasan pantai tersebut.

“Dulu ada benteng yang menjadi tempat pertahanan para pemberontak. Namun, karena tidak terawat, bangunan itu telah hancur,” kata Tatang, seniman Cianjur.

Kendati menyimpan pesona alam, jumlah wisatawan yang berkunjung ke pantai tersebut tergolong sedikit. Salah satu alasannya, lokasi pantai terpencil dari pusat Kota Cianjur, yaitu sekitar 115 kilometer dari pusat kota.

Jarak antara Sindangbarang dengan kota kecamatan terdekat, yaitu Tanggeung, sekitar 20 kilometer. Hal ini diperparah dengan buruknya prasarana jalan menuju lokasi pantai bersejarah itu sehingga perjalanan terasa melelahkan. Di beberapa ruas jalan bahkan tampak lubang menganga yang ditutupi penduduk dengan menggunakan batu kali.

Selain itu, akses menuju lokasi tersebut tergolong sulit karena belum ada sarana transportasi memadai. Satu-satunya kendaraan menuju ke Sindangbarang adalah angkutan minibus. Kendaraan ini pun tidak nyaman untuk dinaiki mengingat sangat penuh sesak. Saking penuh sesaknya, pengusaha angkutan ini sampai merasa perlu untuk memasang tangga di bagian samping mobil agar penumpang dapat naik ke atas atap kendaraan.

Kondisi jalan dan sulitnya angkutan, diakui Kepala Desa Saganten Djajat Sudrajat, merupakan salah satu penyebab sepinya pengunjung pantai ini.

Pantai Apra ternyata juga menyimpan kekayaan alam berupa pasir besi yang berlimpah. Kualitas pasir besi yang dihasilkan pantai ini cukup baik sehingga banyak investor berminat untuk menanamkan modalnya mengeksplorasi pasir besi di pantai ini. “Kami tidak sembarangan memberi izin. Sampai saat ini baru tiga perusahaan yang memiliki izin. Sisanya belum dapat kami berikan izin,” kata Djajat Sudrajat. Sumber : KOMPAS

Tulis Balasan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: