h1

Pasar Darurat Pemkab Cianjur Mubazir?

09/15/2007

BULAN Puasa dan Lebaran masih menjadi saat-saat yang paling dinantikan para pedagang di setiap pasar, termasuk pedagang Pasar Cipanas Cianjur. Alasannya, permintaan masyarakat terhadap beberapa kebutuhan bahan pokok di bulan marema itu dipastikan akan meningkat sehingga mendongkrak pendapatan para pedagang.

Meskipun hingga kini terus dirundung kekhawatiran lantaran belum memiliki kios permanen pascamusibah kebakaran yang meluluhlantakan 1.600 kios, mereka tak ingin ketinggalan menyambut momen yang menguntungkan ini. Mereka menggelar dagangan di kios-kios darurat menyambut puasa dan lebaran. Di antaranya, membangun kios-kios sementara di bekas lahan kebakaran Pasar Cipanas dengan dana swadaya.

Kios-kios darurat yang sempat dibangun pihak Pemerintah Kab. Cianjur sebanyak 800 buah di Jalan Tugu Pahlawan, sekitar 100 meter dari lokasi pasar lama, hanya sebagian yang diisi pedagang. Para pedagang ogah menempati pasar buatan Pemkab Cianjur itu, dengan alasan, ukuran kios tersebut tidak layak ditempati karena terlalu sempit.

Pembangunan 800 kios itu tak urung dipertanyakan pula oleh para pedagang. Pasalnya, Pemkab Cianjur sebelumnya telah berjanji akan me-rampungkan seluruh pembangunan kios darurat sebanyak 1.600 unit sebelum bulan Puasa. Namun, hingga saat ini, pembangunan kios darurat tersebut belum terealisasi.

Menurut pedagang, keterlambatan itu akibat minimnya koordinasi antara pemerintah dan para pedagang. Selain itu, pembangunan kios darurat yang berbeda tempat, termasuk rencana pemakaian Lapangan Brimob untuk lokasi pembangunan kios darurat, dinilai akan menimbulkan konflik di antara para pedagang.

Seperti diungkapkan Ketua Dewan Perwakilan Pedagang (DPP) Pasar Cipanas, Drs. M. Yusup Wilyana. Menurut dia, menghadapi bulan Puasa dan Lebaran kali ini, para pedagang berinisiatif membangun kios-kios sementara di eks lokasi kebakaran dengan dana swadaya. Pembangunan tersebut, katanya, sudah berjalan kurang lebih seminggu.

”Dari target pembangungan 1.200-an kios, baru sebagian yang telah beres. Kita utamakan kios untuk para pedagang sembako yang saat ini banyak dibutuhkan konsumen menjelang puasa dan Lebaran. Pembangunan kios sementara ini kami tempuh melalui prosedur, yakni meminta izin Bupati Cianjur,” terang Yusup.

Yusup menjelaskan, pembangunan kios-kios sementara hasil swadaya tersebut karena tidak layak pakainya kios-kios darurat yang disediakan pemerintah di Jalan Tugu Pahlawan. Selain itu, jumlah kios-kios darurat yang dibangun pemerintah, tidak bisa mengakomodasi jumlah pedagang.

”Masa hanya dibangun 800-an kios darurat, sementara jumlah pedagang sekitar 1.600-an. Tidak masuk akal jika alasannya karena keterbatasan lahan. Kan, mereka telah memperhitungkan luas lahan untuk pembangunan kios-kios darurat itu,” kata Yusup.

Menurut dia, kondisi para pedagang saat ini hampir 90 persen mengkhawatirkan. Mereka, masih berkutat membereskan tempat berjualan. Padahal, bulan Puasa telah tiba. ”Kami berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Di satu sisi, momen bulan Puasa dan lebaran selalu dinantikan pedagang, tapi di sisi lain, kami pun dipusingkan tidak maksimalnya pemerintah dalam menangani nasib para pedagang,” tutur dia saat ditemui, Selasa (11/9).

Pihaknya, ungkap Yusuf, merasa heran dengan kinerja aparat Pemkab yang terkesan lamban dalam menangani pembangunan pasar darurat. Seharusnya mereka membangun pasar yang layak sehingga penderitaan para pedagang bisa berakhir.

Dia mengatakan, kurangnya koordinasi antara pedagang dan pemkab, disinyalir akan memicu timbulnya kontroversi, hingga mengakibatkan terjadinya konflik berkepanjangan. ”Kontroversi ini terjadi akibat kurangnya koordinasi, baik masalah lahan yang digunakan untuk pembangunan kios darurat maupun ukuran kiosnya sendiri,” kata Yusup.

Pihaknya berharap, pembangunan kios-kios sementara itu, dapat mengakomodasi para pedagang yang selama ini kerap berkeluh kesah. Tak sedikit, kata Yusup, para pedagang mengalami beban psikologis pasca- kebakaran lalu. ”Ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Kita pun mengalaminya saat ini. Sudah jelas jika berbicara masalah kerugian secara materi, ditambah pula dengan iktikad pemkab yang seakan-seakan tidak bekerja maksimal dalam menfasilitasi keinginan kami,” terang dia.

Pihaknya, ucap Yusup, telah menyarankan kepada Pemkab Cianjur, untuk mempergunakan lahan lain agar keinginan para pedagang bisa terakomodasi. Misalnya, membangun kios-kios darurat di Lapangan Brimob (Eks Pasar Domba), yang memang sangat diharapkan para pedagang agar target pembangunan kios sebanyak 1.800 buah untuk para pedagang bisa terwujud secepatnya.

”Seharusnya pemkab segera melayangkan surat izin peminjaman lahan ke Polda Metro Jaya, agar target pembangunan kios untuk para pedagang segera terpenuhi, sambil menunggu proses pembangunan kembali Pasar Cipanas,” tandasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kab. Cianjur, H. Oting Zaenal Muttaqien mengakui, menjelang bulan Puasa dan Lebaran ini, pihaknya telah menerima laporan jika para pedagang telah membangun dan menempati kios-kios darurat yang dibangun atas dana swadaya pedagang.

Dari informasi itu, jumlah kios yang telah dibangun itu kurang lebih ada sekitar 700 buah kios. ”Tempatnya di lokasi eks kebakaran Pasar Cipanas. Kalau tidak salah, hari Senin (10/9) kios-kios itu mulai dibagikan dan ditempati pedagang,” kata Oting.

Meskipun kini para pedagang mulai menempati kios-kios darurat yang dibangun dengan biaya sendiri, Oting belum bisa memastikan dibongkar atau tidaknya 800 kios-kios darurat yang telah dibangun Pemkab Cianjur itu. Oting pun membantah pembangunan kios darurat di Jalan Tugu Pahlawan terkesan mubazir.

”Sebenarnya kios yang dibangun para pedagang sendiri ukurannya lebih kecil dari kios yang dibangun Pemkab Cianjur. Tapi itu merupakan kemauan mereka sendiri. Selama ini Pemkab telah bekerja dengan maksimal untuk memfasilitasi para pedagang pasca terjadinya kebakaran,” kilahnya.

Menanggapi permintaan para pedagang agar Pemkab Cianjur segera membangun kios di Lapangan Brimob, menurut Oting, pekan lalu Bupati Cianjur telah melayangkan surat permohonan izin peminjaman lahan tersebut ke Polda Metro Jaya. Namun kendalanya, hingga kini Polda Metro Jaya belum memberikan keputusannya.

”Insya Allah, keinginan itu akan segera terwujud jika Polda Metro Jaya memberikan izin peminjaman lahan. Untuk anggarannya, kami telah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 2 miliar,” terang dia.

Tulis Balasan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 265 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: