h1

Pendidikan Usia Dini

05/30/2007

Artikel:
Pendidikan Usia Dini yang Baik Landasan
Keberhasilan Pendidikan Masa Depan

Judul: Pendidikan Usia Dini yang Baik Landasan Keberhasilan Pendidikan Masa Depan
Nama & E-mail (Penulis): Drs. H. Agus Ruslan, M.MPd
Saya di Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma’arif Bandung
Topik: Pendidikan Usian Dini
Tanggal: 31 Mei 2007

PENDIDIKAN USIA DINI YANG BAIK LANDASAN KEBERHASILAN PENDIDIKAN MASA DEPAN

Keberhasilan anak usia dini merupakan landasan bagi keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya. Usia dini merupakan “usia emas” bagi seseorang, artinya bila seseorang pada masa itu mendapat pendidikan yang tepat, maka ia memperoleh kesiapan belajar yang baik yang merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasilan belajarnya pada jenjang berikutnya.

Kesadaran akan pentingnya PAUD cukup tinggi di negara maju, sedangkan di Indonesia baru berlangsung pada  10 tahun yang lalu, dan hingga pada saat ini belum banyak disadari masyarakat begitu juga praktisi pendidikan

. Martin Luther (1483 – 1546)

Menurut Martin Luther tujuan utama sekolah adalah mengajarkan agama, dan keluarga merupakan institusi penting dalam pendidikan anak.

Pemikiran Martin Luther ini sejalan dengan tujuan madrasah (sekolah Islam) yaitu pendidikan agama Islam, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian integral dari agama Islam. Dengan demikian pendidikan di madrasah akan menghasilkan ulul-albaab (QS. 3 : 190 – 191), yaitu penguasaan iptek yang dapat digunakan dalam kehidupan dengan ahlak mulia, berdampak rahmatan lil alaminn, yang dijanjikan Allah akan ditingkatkan derajatnya (QS. 58 : 11).

. Jean – Jacques Rousseau (1712 – 1718)

Bukunya Du de ‘education, menggambarkan cara pendidikan anak sejak lahir hingga remaja.

Menurut Rousseau: “Tuhan menciptakan segalanya dengan baik; adanya campur tangan manusia menjadikannya jahat (God make every things good; man meddles with them and they become evil).

Rousseau menyarankan “kembali ke alam” atau “back to nature”, dan pendekatan yang bersifat alamiah dalam pendidikan anak yaitu : “naturalisme”. Naturalisme berarti, pendidikan akan diperoleh dari alam, manusia atau benda, bersifat alamiah sehingga memacu berkembangnya mutu, seperti kebahagiaan, sportivitas dan rasa ingin tahu. Dalam prakteknya naturalisme menolak pakaian seragam (dress code), standarisasi keterampilan dasar yang minimum, dan sangat mendorong kebebasan anak dalam belajar.

Anak dibekali potensi bawaan (QS. 16 : 78) yaitu potensi indrawi (psikomotorik), IQ, EQ dan SQ. Semua manusia perlu mensyukuri pembekalan dari Allah SWT, dengan mengaktualisasikannya menjadi kompetensi.

. Johan Heindrich Pestalozzi (1746 – 1827)

Dalam bukunya “Emile” ia sangat terkesan dengan “back to nature”. Ia mengintegrasikan kehidupan rumah, pendidikan vokasional dan pendidikan baca tulis. Pestalozzi yakin segala bentuk pendidikan adalah melalui panca indra dan melalui pengalamannya potensi untuk dikembangkan. Belajar yang terbaik adalah mengenal beberapa konsep dengan panca indra. Ibu adalah seorang pahlawan dalam dunia pendidikan, yang dilakukannya sejak awal kehidupan anak.

. Frederich Wilhelm Froebel (1782 – 1852)

Froebel menciptakan “Kindergarten” atau taman kanak-kanak, oleh karena itu ia dijadikan sebagai “bapak PAUD”. Pandangan Froebel terhadap pendidikan dikaitkan dengan hubungan individu, Tuhan dan alam. Ia menggunakan taman atau kebun milik anak di Blankenburg Jerman, sebagai milik anak. Bermain merupakan metode pendidikan anak dalam “meniru” kehidupan orang dewasa dengan wajar. Kurikulum PAUD dari Froebel meliputi :

- Seni dan keahlian dalam konstruksi, melalui permainan lilin dan tanah liat, balok-balok kayu, menggunting kertas, menganyam, melipat kertas, meronce dengan benang, menggambar dan menyulam.

- Menyanyi dan kegiatan permainan.

- Bahasa dan Aritmatika.

Menurut Froebel guru bertanggung jawab dalam membimbing, mengarahkan agar anak menjadi kreatif, dengan kurikulum terencana dan sistematis.

Guru adalah manajer kelas yang bertanggung jawab dalam merencanakan, mengorganisasikan, memotivasi, membimbing, mengawasi dan mengevaluasi proses ataupun hasil belajar. Tanpa program yang sistematis penyelenggaraan PAUD bisa membahayakan anak.

. John Dewey (1859 – 1952)

John Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). Teori Dewey tentang sekolah adalah “Progressivism” yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah “Child Centered Curiculum”, dan “Child Centered School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas, seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya “My Pedagogical Creed”, bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. Aplikasi ide Dewey, anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik, baru peminatan.

Bandingkan pendapat Dewey tsb dengan sabda Rasulullah SAW “didiklah anak-anakmu untuk jamannya yang bukan jamanmu”

. Maria Montessori (1870 – 1952)

Sebagai seorang dokter dan antropolog wanita Italy yang pertama, ia berminat terhadap pendidikan anak terbelakang, yang ternyata metodenya dapat digunakan pada anak normal.

Tahun 1907 ia mendirikan sekolah “Dei Bambini” atau rumah anak di daerah kumuh di Roma. Metode Montessori adalah pengembangan kecakapan indrawi untuk menguasai iptek untuk diorganisasikan dalam pikirannya, dengan menggunakan peralatan yang didesain khusus. Belajar membaca dan menulis diajarkan bersamaan. Montessori berpendapat anak usia 2 – 6 tahun paling cepat untuk belajar membaca dan menulis. Kritik terhadap Montessori adalah karena kurang menekankan pada perkembangan bahasa dan sosial, kreatifitas, musik dan seni.

Ijtihad dengan hasil yang benar bernilai dua, apabila hasilnya salah nilainya satu, sedangkan taklid atau mengikuti bernilai nol, jadi berfikir kreatif itu dikehendaki oleh Allah SWT.

. McMiller Bersaudara

Rachel dan Margaret mendirikan sekolah Nursery yang pertama di London pada tahun 1911. sekolah ini mementingkan kreatifitas dan bermain termasuk seni.

. Jean Piaget (1896 – 1980)

Ilmuwan Swiss ini tertarik pada ilmu pengetahuan proses belajar dan berfikir, meskipun ia sendiri ahli dalam biologi. Menurut Piaget ada tiga cara anak mengetahui sesuatu :

Pertama, melalui interaksi sosial, Kedua, melalui interaksi dengan lingkungan dan pengetahuan fisik, Ketiga, Logica Mathematical, melalui konstruksi mental.

. Benjamin Bloom

Bloom (1964) mengamati kecerdasan anak dalam rentang waktu tertentu, yang menghasilkan taksanomi Bloom. Kecerdasan anak pada usia 15 tahun merupakan hasil PAUD. Pendapat ini dukung oleh Hunt yang menyatakan bahwa PAUD memberi dampak pada pengembangan kecerdasan anak selanjutnya.

. David Werkart

Metode pengajarannya menggunakan prinsip-prinsip :
- Memberikan lingkungan yang nyaman,
- Memberikan dukungan terhadap tingkah laku dan bahasa anak,
- Membantu anak dalam menentukan pilihan dan keputusan,
- Membantu anak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri dengan melakukannya sendiri.
Werkart mendirikan lembaga High Scope Education (1989).

Layanan bagi Anak Usia Dini

Anak usia dini meliputi usia 0 – 6 tahun. Pada usia 0 – 2 tahun pertumbuhan fisik jasmaniah dan pertumbuhan otak dilakukan melalui yandu (pelayanan terpadu) antara Depertemen Kesehatan, Depsosial, BKKBN dan Depdiknas. Dalam program PAUD, diharapkan Depdiknas menjadi “Leading Sector”.

Pada usia 2 – 4 tahun layanan dilakukan melalui penitipan anak (TPA) atau Play Group. Pada usia 4 – 6 tahun layanan dilakukan melalui Taman Kanak-kanak (TK – A dan TK – B).

Perkembangan Kepribadian dan Kognitif Anak Usia Dini

. Teori perkembangan Psikososial Erikson

Ada empat tingkat perkembangan anak menurut Erikson, yaitu :

Pertama, usia anak 0 – 1 tahun yaitu trust Vs mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan “trust” pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan “mistrust” yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.

Kedua, usia 2 – 3 tahun, yaitu autonomy Vs shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua/guru yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila guru tidak sabar, banyak melarang anak, menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Jangan membuat anak merasa malu.

Ketiga, usia 4 – 5 tahun, yaitu Inisiative Vs Guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Guru dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak (ingat metode Chaining nya Gagne), maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi, pertanyakan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.

Keempat, usia 6 – 11 tahun, yaitu Industry Vs Inferiority, bila anak dianggap sebagai “anak kecil” baik oleh orang tua, guru maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual, dan kurang percaya diri.

. Teori perkembangan Konitif Piaget

Ada tiga tahapan perkembangan kognitif anak menurut piaget, yaitu :

Pertama, tahap sensori motorik (usia 0 – 2 tahun) anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan indranya.

Kedua, tahap praoperasional. Anak berusaha menguasai simbol-simbol, (kata-kata) dan mampu mengungkapkan pengalamannya, meskipun tidak logis (pra-logis). Pada saat ini anak bersifat ego centris, melihat sesuatu dari dirinya (perception centration), yaitu melihat sesuatu dari satu ciri, sedangkan ciri lainnya diabaikan.

Ketiga, tahap operasional kongkrit. Pada tahap ini anak memahami dan berfikir yang bersifat kongkrit belum abstrak.

Keempat, tahap operasional formal. Pada tahap ini anak mampu berfikir abstrak.

Kurikulum PAUD

Kurikulum TK dikembangkan berdasarkan integrated curriculum (kurikulum terintegrasi) dengan pendekatan tematik. Kurikulum diorganisasikan melalui suatu topik atau tema. Katz dan Chard (1989) yang dikutip oleh Soemiarti Patmonodewo (2003) menetapkan kriteria untuk memilih tema yaitu: ada keterkaitannya, kesempatan untuk menerapkan keterampilan, kemungkinan adanya sumber, minat guru.

Bahan-bahan untuk mengembangkan tema antara lain :
a) Lingkungan anak seperti : rumah, keluarga, sekolah, permainan, diri sendiri.
b) Lingkungan : kebun, alat transportasi, pasar, toko, museum.
c) Peristiwa : 17 Agustus, hari Ibu, upacara perkawinan.
d) Tempat : Jalan raya, sungai, tempat bersejarah
e) Waktu : jam, kalender, dan sebagainya.

Program PAUD

. Day Care atau TPA (Taman Penitipan Anak), yang berfungsi sebagai pelengkap pengasuhan orang tua. TPA dirancang khusus dengan program dan sarananya, untuk membantu pengasuhan anak selama ibunya bekerja. Pengasuhan dilakukan dalam bentuk peningkatan gizi, pengembangan intelektual, emosional dan sosial anak. TPA di Indonesia sudah berkembang dalam bentuk: TPA perkantoran, TPA perumahan, TPA industri, TPA perkebunan, TPA pasar. Sekarang banyak bermunculan TPA keluarga, yang diselenggarakan di rumah-rumah.

. Pusat pengembangan anak yang terintegrasi yang memberikan pelayanan perbaikan gizi dan kesehatan dengan tujuan peningkatan kualitas hidup anak. Di Indonesia dikenal dengan nama Posyandu (pos pelayanan terpadu) yang memberikan pelayanan makanan bergizi, imunisasi, penimbangan berat badan anak, layanan kesehatan oleh dokter, pemeriksaan kesehatan keluarga berencana. Pelatih dan pelaksana semuanya relawan yang sebelumnya mendapat pelatihan.

. Pendidikan Ibu dan Anak

Yang menjadi tujuan adalah pendidikan ibu yang memiliki balita, dalam hal pendidikan dan pengasuhan anak.

Pola pendidikan seperti ini berkembang menjadi HIPPY (Home Instruction Programme for Preschool Youngster) di Israel Pendidikan orang dewasa dengan pendekatan kelompok juga dilaksanakan oleh Indonesia, Cina, Jamaica, dan Kolumbia.

Di Indonesia dikenal dengan program Bina Keluarga Balita, yang dikoordinasikan oleh Meneg Urusan Peranan Wanita dan BKKBN dengan bantuan UNICEF, yang dilaksanakan sejak 1980.

. Program Melalui Media

Media yang digunakan bisa media cetak, TV, Radio, dan Internet. Tahun 1980 Venezuela program dengan media dikenal sebagai “Project to Familia”, dengan tujuan untuk meningkatkan kecerdasan anak sejak lahir hingga usia 6 tahun, yang diberikan kepada Ibu. Program melalui TV saat ini bisa mengangkat jauh ke pelosok desa.

. Program “Dari Anak Untuk Anak”

Pengasuhan adik oleh kakaknya terjadi secara spontan. Kakaknya diajarkan tentang pentingnya vaksinasi, gizi, dab bagaimana mendorong adik untuk berbicara, mengajak bermain, dan menyuapi adik, yang kemudian dipraktekkan dirumah. Pola ini punya beberapa keuntungan antara lain yaitu :

- Si Kakak, telah mendapatkan keterampilan untuk menjadi orang tua dengan pola pengasuhan anak yang baik.

- Si Kakak ini bisa menularkan keterampilannya kepada teman sebayanya.

- Keterampilan si kakak tadi dapat diterapkan dilingkungannya.

Program ini dilakukan di sekolah formal dengan bekerja sama dengan pusat kesehatan, BKKBN, Departemen sosial dan pramuka. Program ini untuk pertama kalinya dilakukan di London.

. “Head Start” di Amerika

Tujuan “Head Start” adalah untuk memerangi kemiskinan, dengan cara membantu anak-anak untuk mempersiapkan mereka memasuki sekolah. Head Start memberikan sarana pendidikan, sosial, kesehatan, gigi, gizi dan kesehatan mental anak-anak yang berasal dari keluarga miskin.

. Taman Kanak-kanak atau Kindergarten

TK merupakan buah fikiran Froebel dari Jerman, melalui konsep belajar melalui bermain yang berdasarkan minat anak, dimana anak sebagai pusat (child centered). Pola belajar sebelumnya adalah teacher centered seperti yang dilaksanakan di Amerika dengan menitikberatkan pada mata pelajaran.

The Nebraska Department of Education di Amerika memberikan saran tentang bentuk TK yang baik yaitu :

- Ada kerjasama sekolah dan orang tua dalam memberi pengalaman belajar bagi anak.

- Pengalaman anak hendaknya dirancang untuk terjadi exploration and discovery, tidak hanya duduk dengan kertas diatas meja.

- Anak belajar melalui alat permainan.

- Anak belajar menyukai buku dan bahasa melalui kegiatan bercerita dengan bahasanya sendiri.

- Anak melakukan kegiatan sehari-hari melatih motorik kasar dan halus, dengan berlari, melompat, melambung bola, menjahit, kartu, bermain dengan lilin,

- Anak berlatih mengembangkan logika matematika, dengan bermain pasir, unit balok, alat bantu hitung, .

- Anak berlatih mengembangkan rasa ingin tahu tentang alam, melalui pengamatan percobaan dan menarik kesimpulan.

- Anak mengenal berbagai irama musik dan alatnya.

- Anak berlatih menyukai seni.

Semua kegiatan TK dirancang untuk mengembangkan self image yang positif, serta sikap baik pada teman dan sekolah; dengan bermain sebagai media belajar.

Beberapa Model Penyelenggaraan TK

Pengasuhan bagi anak-anak dapat dilakukan secara home based atau center based. Ada tiga model center based.

a) Model Montessori

Untuk pertama kalinya, sekolah model Montessori didirikan pada tahun 1907 di Breka di Italia, dan beberapa tahun kemudian berkembang di Eropa.

Beberapa filsafat Montessori dalam belajar yaitu :

- Absorbent minds (ingatan yang meresap)

- The prepared environment (limgkungan yang dipersiapkan).

- Sensitive period (periode sensitive)

Alat-alat yang digunakan dalam pendidikan model Montessori terbagi dalam empat kelompok, yaitu:

- Alat pengembangan keterampilan, untuk menumbuhkan disiplin diri, kemandirian, konsentrasi dan kepercayaan diri.

- Alat pengembangan fungsi sensoris untuk memperhalus fungsi indra.

- Alat pengembangan akademis, seperti huruf-huruf yang bisa ditempelkan di papan.

- Alat pengembangan artistik yang berorientasi pada budaya, agar anak belajar menyukai dan menghargai musik, belajar seni dan keselarasan musik.

Dalam model Montessori, anak bebas memilih aktifitas, yang berhubungan dengan “auto – education” dimana anak harus mendidik diri sendiri tanpa di dikte guru.

Secara keseluruhan, menurut American Montessori Society (1984), tujuan pendidikan Montessori adalah :

- Pengembangan konsentrasi,

- Keterampilan mengamati,

- Keselarasan memahami tingkatan dan urutan,

- Koordinasi kesadaran dalam melakukan persepsi dan keterampilan praktis.

- Konsep yang bersifat matematis,

- Keterampilan membaca dan menulis,

- Keterampilan berbahasa,

- Terbiasa dengan kesenian yang kreatif,

- Memahami dunia alam lingkungan,

- Memahami ilmu sosial,

- Berpengalaman dalam menyelesaikan masalah

b) Model Tingkah Laku

Model ini didasarkan atas teori John B. Watson, E Thorn dan B.F Skinner, yang meyakini bahwa tingkah laku dapat dibentuk dengan “stimulus” dan “respons”, dan “operant conditioning”. Tingkah laku dikontrol oleh “reward” dan “punishment”. Model ini kurang memperhatikan pengembangan fisik dan emosi, karena mereka berpendapat bahwa anak akan memperoleh “Self Esteem” apabila anak berhasil dalam prestasi intelektualnya.

c) Model Interaksionis

Model ini didasari oleh teori Piaget, contohnya adalah program “The High Scope” yang dikembangkan oleh David Weikart, “Educating the Young Thinker” yang dikembangkan oleh Irvan Siegel dalam “Piaget of Early Education” yang dikembangkan oleh Contance Kamii dan Rheta Devries.

Menurut Piaget, belajar adalah proses yang didasarkan atas “Intrinsic Motivation”. Kemampuan berfikir tumbuh hingga tahapan berfikir abstrak dan logis.

Tujuan model ini adalah untuk menstimulasi seluruh area perkembangan anak, baik fisik, sosial, emosional maupun perkembangannya kognitif, yang kesemuanya dianggap sama pentingnya.

Kamii dan Devries (1979) menyatakan bahwa pendidikan harus bertujuan jangka panjang, suatu perkembangan dari seluruh kepribadian, intelektual dan moral.

Piaget menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menyiapkan manusia yang mampu membuat sesuatu yang baru, kreatif, berdaya cipta, nalar dengan baik, kritis, dan bukan hanya mengulangi dan meniru sesuatu yang telah terjadi dahulu.

Bermain Sebagai Proses Belajar

Bermain merupakan proses pembelajaran di TK, yang berupa bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan bermain yang diarahkan. Bentuk-bentuk bermain antara lain bermain sosial, bermain dengan benda dan bermain sosio dramatis.

Bermain sosial terdiri dari bermain seorang diri (solitary play), bermain dimana anak hanya sebagai penonton (onlooker play), bermain paralel (parallel play), bermain asosiatif (associative play) dan bermain kooperatif (cooperative play).

Perkembangan Tingkah Laku dan Bermain

Bayi bermain dalam tingkat sensori motoris, dengan menjelajahi benda dan manusia yang ditemuinya, dan menyelidikinya. Pada akhir usia satu tahun ia mulai bermain dengan Ciluk – Ba. Kemudian ia bermain dengan menggunakan alat, dan pada usia menjelang sekolah ia bermain konstruktif, dengan benda dan beberapa aturan. Anak usia 3 tahun dapat bermain dengan berperan sebagai keluarga. Anak bisa bermain dengan peraturan, pada usia 7 – 12 tahun dan menunjukkan bahwa ia berada pada tahap kongkrit operasional.

Hubungan Orang Tua dan PAUD

Orang tua merupakan guru yang pertama bagi anak-anaknya. Apabila ada kerjasama antara orang tua dan anak akan menghasilkan :

- Peningkatan konsep diri pada orang tua dan anak,

- Peningkatan motivasi belajar, dan

- Peningkatan hasil belajar.

Keterlibatan orang tua, ada tiga kemungkinan, yaitu :

- Orientasi pada tugas.

- Orientasi pada proses.

- Orientasi pada perkembangan.

Komunikasi antara sekolah dengan orang tua bisa bersifat komunikasi resmi atau tidak resmi, kunjungan ke rumah, pertemuan orang tua, dan laporan berkala.

*Penulis adalah pengasuh pondok pesantren Darul Ma’arif Bandung
Saya Drs. H. Agus Ruslan, M.MPd setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

4 komentar

  1. Assalamu’alaikum Wr Wb
    Saya kesulitan untuk mendapatkan kurikulum PAUD,mungkin anda bisa membantu saya,dengan mengirimkan kurikulum tersebut melalui e-mail.Terima kasih banyak.


  2. A. Latar Belakang (Sejarah)
    Pestalozzi adalah orang yang pertama membangun konsep pendidikan seperti training pada guru dan inovasi dalam kurikulum seperti kelompok kerja, studi kerja, tingkatan nilai, kemampuan dalam kelompok, dan memberikan kesempatan tiap individu untuk mengembangkan diri. Pestalozzi mengabdikan hidupnya untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak miskin di Eropa untuk memperoleh pendidikan. Pestalozzi juga menulis buku dan artikel-artikel di surat kabar untuk menarik masyarakat agar memberikan perhatian kepada anak-anak miskin. Pada akhir abad kedelapanbelas dan awal berabad-abad ke sembilan belas, naturalisme dalam pendidikan telah dinyatakan oleh Jean Jacques Rosseau Dan Johann Heinrich Pestalozzi. Dalam komentar banyak orang, naturalism dalam pendidikan dikenal sebagai pembaharuan, sebagai aliran yang telah memberontak melawan terhadap supernaturalism, pengajaran paham religius, paham klasik, dan verbalism dalam pendidikan.
    Pestalozzi menunjuk ide besarnya ketika Anschauung, suatu yang istilah berarti pembentukan tentang konsep bersih dari persepsi rasa. Yang Setelah Aristotelian, disetujui sebagai konseptualisasi pendidikan di Swiss. Obyek pelajaran Pestalozzi adalah unik dengan mengenalkan metoda instruksional. Obyek pelajaran Pestalozzi telah didasarkan pada pengajaran menggunakan format, nomor, jumlah, dan nama. Para siswa mengekstrak format itu, perancangan kegiatan, dan menghitung kegiatan, dan untuk menyebut mereka. Tidak sama dengan Pencarian Thomistic untuk prinsip pertama, Penyelidik alam seperti Pestalozzi menekankan permulaan sederhana, pengalaman segera, dan kasus campuran.
    Pembelaan naturalisme dalam pendidikan kemudian, adalah doktrin bahwa kita belajar melalui pikiran sehat, yang implikasinya dipegang dilafalkan sebagai instruksi. Francis Parker (1837- 1902), seorang bapak paham Progressivisme Amerika menekankan belajar alamiah di masa anak-anak, dengan metode darmawisata, alamiah yang dipelajari langsung. Pengalaman berhubungan dengan perasaan sebagai basis untuk belajar di masa datang yang berarti bahwa anak-anak perl mempunyai pengalaman dengan object di dalam lingkungan. Melalui aktivitas dan kegiatan, mereka diharapkan untuk aktif berhadapan dengan kegiatan tersebut, dan dalam melaksanakan eksperimen sehingga didapatkan kesamaan pemahaman tentang lingkungan tersebut. William Heard Kilpatrick (1871- 1965), seorang tokoh progresif terkemuka, memikirkan metoda kegiatan tersebut, yang mempercayakan kebebasan memilih aspek Naturalism. Suatu hari kemudian neo-Rousseau, yaitu Yohanes Holt, dalam pembelaan kebebasannya, membantah bahwa anak-anak membangun kenyataan mereka sendiri ketika mereka menyelidiki lingkungan mereka. Untuk membentuk kenyataan diri sendiri adalah suatu karya yang berbeda jauh dari belajar kenal dan menyesuaikan diri kepada struktur kenyataan ketika ahli filsafat realis meminta dengan tegas.
    Bagi penyelidik alam, nilai-nilai bangun dari aspek manusia yang berinteraksi dengan lingkungan. Naluri, pengarah, dan dorongan/gerakan hati perlu untuk dinyatakan bukannya untuk menindas. Ungkapan ini, bagaimanapun, harus didasarkan yang alami mengagumi diri sendiri, atau dalam istilah Rousseau’s amour de soi, yang menghapuskan eksploitasi dari yang lain, bukan atas egoisme untuk memperoleh perlakuan khusus dan status lain-lain. Bagi Rousseau, orang yang alami baik adalah yang murni/tidak manja oleh kepalsuan dan konvensi sosial. Rousseau menolak kedua-duanya pandangan Calvinist rusaknya tabiat manusia oleh karena warisan mereka dari dosa asli dan Agama Katholik memandang bahwa mereka secara spiritual sangat kekurangan oleh karena ini menerima warisan secara alami penuh dosa. Bertolakbelakang dengan pemahaman tersebut, Rousseau, menemukan tidak ada yang tidak bisa dipisahkan sifat jahat dalam hati manusia. Kejahatan masyarakat, Dalam terminologi Rousseau, anak secara total baik saat kelahirannya. Sebab anak-anak adalah baik, pendidikan adalah wahana untuk menanamkan moral persons-should mengikuti dorongan/gerakan hati dan kecenderungan anak anak. Kurikulum Dan Instruksi perlu mempertimbangkan sikap alamiah anak tersebut.
    B. Tokoh Pelopor
    a. Jonhann Heinrich, (Swiss)
    b. Jean Jacquen Rousseau.
    c. William Heard Klipatricle.

    BAB II
    PESTALOZZI

    A. Pendangan Dasar
    Pestalozzi mempunyai pandangan dasar bahwa pendidikan bukanlah upaya menimbun pengetahuan pada anak didik. Atas dasar pandangan ini, ia menentang pengajaran yang “verbalitis”. Pandangan ini melandasi pemikirannya bahwa pendidikan pada hakikatnya usaha pertolongan (bantuan) pada anak agar anak mampu menolong dirinya sendiri yang dikenal dengan “Hilfe Zur Selfbsthilfe”
    Dilihat dari konsepsi tujuan pendidikan, Pestalozzi sangat menekankan pengembangn aspek sosial pada anak sehingga anak dapat melakukan adaptasi dengan lingkungan sosialnya serta mampu menjadi anggota masyarakan yang berguna. Pendidikan sosial ini akan berkembang jika dimulai dari pendidikan keluarga yang baik. Peran utama pendidikan keluarga yang sangat ditekankan adalah ibu yang dapat memberikan sendi-sendi dalam pendidikan jasmani, budi pekerti agama. Pada kenyataannya baik pendidikan maupun sistem dan model-model kelembagaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat mencerminkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya. Jadi menurutnya pendidikan berbasis masyarakat akan memperkuat posisi dan peran pendidikan sosial.
    Sesuai dengan pandangan Jean Jacques Roussean (1712-1778) bahwa anak dilahirkan membawa bakat yang baik, maka pendidikan adalah pengembangan bakat anak secara maksimal melalui pembiasaan, latihan, permainan, partisipasi dalam kehidupan, serta penyediaan kesempatan belajar selaras dengan tahap-tahap perkembangan anak.
    B. Prinsip
    1. Prinsip pengamatan alam
    Pendidikan yang menekankan pada pengamatan alam, semua pengetahuan bersumber pada pengamatan-pengamatan seorang anak pada suatu akan menimbulkan pengertian. Pengertian yang baru akan bergabung dengan pengertian lama dan membentuk pengetahuan.Selain itu pestalozzi juga menganjurkan pendidikan kembali ke alam (back to nature), atau sekolah alam. Inti utamanya adalah menganjak anak melakukan penagamatan pada sumber belajar di lingkungan sekitar.
    2. Menumbuhkan keaktifan jiwa raga anak
    Melalui keaktifan anak maka ia akan mampu mengolah kesan pengamatan menjadi pengetahuan. Keaktifan juga mendorong anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sehingga merupakan pengalaman langsung dengan lingkungan. Pengalaman interaksi ini akan menimbulkan pengertian tentang lingkungan dan selanjutnya akan menjadi pengetahuan baru. Inilah pemikiran Pestalozzi yang banyak menjadi topik perbincangan yang disebut belajar aktif (active learning).
    3. Pembelajaran bertahap
    Prinsip ini sangat cocok dengan kodrat anak yang tumbuhdan berkembang secara bertahap. Pembelajaran dan pandangan dasar tersebut membawa konsekuensi bahwa bahan pengembangan yang diberikan harus disusun secara bertahap, dimulai dari bahan termudah smpai tersulit, dari bahan pengembangan yang sederhana sampai yang terkompleks.
    C. Pendekatan
    1. Pendekatan konkret
    Pendekatan ini menghendaki pembelajaran dengan menggunakan benda-benda sesungguhnya. Pendekatan ini menolak pembelajaran secara abstrak. Melalui pendekatan ini, proses pembelajaran akan sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang konkret bagi anak, terutama menjadi hidup dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Pendekatan active learning
    Pendekatan ini menghendaki anak aktif dalam kegiatan belajar sehingga anak tidak hanya menjadi objek tetapi juga menjadi subjek.
    3. Pendekatan pedosentri
    Pendekatan ini menghendaki pembelajaran yang disesuikan dengan tahap-tahap perkembangan anak dan kemampuan tiap individu yang memiliki karateristik berbeda.
    4. AVM (Auditori, Visual, dan Memori)
    Pendekatan ini menghendaki bentuk-bentuk pengajaran yang lebih menekankan pada pembelajaransuara, bentuk dan bilangan. Melalui pengembangan AVM ini berfungsi sel-sel syaraf akan berkembang dan selajutnya akan dapat mengembangkan potensi-potensi lainnya seperti imajinasi, kreativitas, intelengensi, bakat, minat anak, misalnya dalam kelompok pengembangan kosa kata anak dan kemempuan berkomunikasi harus mendapat perhatian intensif. Selain itu, pendekatan ini juga menekankan pembelajaran melalui pengamatan dan pengalaman langsung sehingga pengetahuan yang diperoleh oleh anak lebih bertahan lama dalam ingatannya.
    D. Metode
    1. Pengamatan
    Bahan pengajaran disajikan dengan kokret sehingga anak dapat melakukan pengamatan dan mengalami secara langsung.
    2. Demontrasi
    Metode pengajaran yang dilakukan dengan cara memperlihatakan suatu bentuk proses atau kegiatan tertentu agar diikuti oleh anak.
    3. Diskusi
    Metode dengan mengajarkan anak membicarakan suatu benda atau peristiwa yang akan dibahas bersama.
    4. Tanya jawab
    Metode yang melibatkan anak dan guru melakukan kegiatan tanya jawab tentang suatu tema, objek atau peristiwa tertentu.
    5. Resintasi
    Metode dengan memberikan penugasan pada anak untuk mengerjakan berbagai kegiatan atau permainan tertentu.
    6. Probem solving
    Metode pengajaran yang melibatkan guru dan siswa untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan bahan pembelajaran.
    E. Sumber belajar
    Ke kebun Binatang, Musium, Taman Mini, Taman Buah atau Taman Impian Jaya Ancol, (TV, Tape-recorder, VCD-player), Buku, Majalah, Internet.

    F. Langkah-langkah Pembelajaran (RPP)
    1. Langkah menuju (asosiasi)
    Tema : Tanaman
     Melalui gambar, guru memperkenalkan tentang tanaman Jagung (kosakata dan cara pengungkapan kata Jagung)
     Memperkenalkan bentuknya
     Memperkenalkan warnanya

    2. Langkah mengenal
    Berdasarakan contoh diatas, dalam tahap ini anak dapat mengulang kembali penjelasan guru tentang tanaman Jagung dengan menggunakan bahasnya sendiri.
    3. Langkah mengingat
    Pada tahap ini, guru mencoba bertanya kembali kepada anak tetang pembahasan pembelajaran yang telah diberikan. Tahap ini juga diktakan sebagai tahap evaluas


  3. kalo menurut saya tulisan ini bagus dan sangat bermanfaat bagi orang lain yg membutuhkannnya


  4. Ass…saya butuh bahan untuk membuat makalah tentang William Kilpatrick,mhn di share dong…



Tulis Balasan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 278 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: